Tiga Dampak Penting Akibat Covid-19, hingga Upaya ‘Kesusu’ Pemerintah Selamatkan Pundi-pundi Rupiah

Tiga Dampak Penting Akibat Covid-19, hingga Upaya ‘Kesusu’ Pemerintah Selamatkan Pundi-pundi Rupiah

Belakangan, dunia telah digemparkan dengan wabah penyakit mematikan, Covid-19 atau lebih dikenal dengan nama Corona Virus. Virus yang berasal dari Wuhan, Cina ini sudah menjangkiti hampir sebagian besar negara di dunia, termasuk Indonesia. Akibat dari meluasnya penyebaran virus, beberapa aspek penunggang ekonomi terpakasa harus menutup sementara pasar dari luar negeri atau sebaliknya, konsumen yang menutup diri.

1. Pulau Dewata Sepi Turis
Aspek yang benar-benar terlihat mengalami penurunan drastis adalah Pariwisata. Pekan lalu, saya menyaksikan berita CNBC yang memaparkan bahwa mewabahnya virus ini telah menjadi petaka bagi sektor pariwisata di Indonesia, terlebih Bali. Kita semua sepakat, jika Industri pariwisata di Bali yang paling banyak dikunjungi oleh turis domestik maupun mancanegara. Dari tahun ke tahun, pulau dewata masih menjadi penyumbang terbanyak devisa negara.

Tapi maraknya kasus Covid-19 ini membuat para wisatawan menjadi lebih meningkatkan kewaspadaan, saat hendak berkunjung ke suatu tempat. Hal itu bisa kita lihat dari jumlah kedatangan wisatawan di Bali. Tahun ini, dari sumber CNBC terdapat penurunan kunjungan ke Bali hingga 50 persen.

Selain itu, salah satu faktornya adalah penutupan serta akses penerbangan dari negara-negara tertentu oleh pemerintah demi membatasi penyebaran virus ini. Bisa kita duga, dengan adanya wabah ini rata-rata kunjungan wisatawan asing akan sulit dicapai. Bahkan potensi pemasukan yang hilang di Bali akibat sepinya wisata mencapai kisaran 50 miliar per hari. Secara keseluruhan sektor pariwisaa Indonesia, dikutip dari laman katadata.co.id dan cnbcindonesia.com, Indonesia memiliki potensi kehilangan devisa mencapai US$ 4 miliar.

2. Karyawan Terancam di PHK Massal
Saat ini, Badan Pusat Statistik (BPS) menujukkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia turun hingga 7,62 persen, tingkat kunjungan hanya mencapai angka 1,27 juta orang per Januari 2020.

Sepadan dengan turunnya kunjungan wisatawan, para pelaku industri pariwisata mulai terancam kehilangan mata pencahariannya. Para pemilik perusahaan mengalami banyak kerugian atas penurunan drastis wisatawan mancanegara maupun domestik. Sehingga potensi keputusan untuk PHK oleh perusahaan sangat besar. Upah yang semakin sulit dibayarkan karena tak ada pemasukan dari klien menjadii alasan paling rasional.

Keresahan yang sering didengungkan para pelaku usaha pariwisata saat ini salah satu adalah menurunnya tingkat keterhunian hotel. Sedangkan berdirinya hotel-hotel mewah dengan restoran itu memakan pajak yang tidak sedikit. Jika hal itu terus-terusan terjadi, besar kemungkinan pemilik usaha akan menutup segala bisnisnya.

3. Biro Perjalanan Kocar-kacir
Di sisi lain, agen biro perjalanan pun tak kalah ketar-ketir melihat masalah ini. Bahkan terancam dengan pembatalan sepihak oleh customer. Selain pembatasan kunjungan yang dilakukan pemerintah, mereka juga mengkhawatirkan akan terserang penyakit mematikan itu jika terus nekat berpergian.

Saya mencoba ngobrol dengan teman-teman yang bekerja di industri pariwisata dan biro travel. Di Surabaya, biro travel sudah memberlakukan kebijakan baru dengan mempertambah masa libur. Hal ini dilakukan oleh pemilik perusahaan karena penjualan menurun drastis.

“Biro travel sekarang sudah mulai banyak yang diliburkan dua kali tiap minggunya. Dulu hanya hari Minggu saja, sekarang hari Sabtu juga,” ucap Mouza selaku pegawai biro travel.

Lebih lanjut, ia juga menambahkan jika ada beberapa perusahaan travel yang memberikan jatah cuti hingga berkali-kali. “Jika dirata-rata, semua perusahaan travel menurun drastis penjualannya. Bahkan pegawai dipaksa ambil cuti sebulan lima kali, untuk mengurangi cost perusahaan,” jelasnya.

Masalah para agen travel ditambah lagi dengan Arab Saudi yang mengambil langkah preventif untuk menghentikan traffic umroh. Hal ini membuat para pembisnis travel dengan layanan umroh semakin merasa terancam, mereka harus berpikir kembali untuk menerapkan kebijakan baru di dalam perusahaannya.

4. Upaya Pemerintah
Dalam mengatasi masalah ini, pemerintah akan mengeluarkan budget Rp 72 Miliar untuk para influencer internasional datang ke Indonesia dan menyebarkan video-video atau menginfluence dengan cara apa pun, agar para turis mau kembali berlibur ke Indonesia. Saya kira ini sangat tidak logis dan terkesan kesusu (terburu-buru). Bagaimana mungkin wisatawan akan datang jika masih mewabahnya virus? Dan kenapa harus tetap memaksa pariwisata ditingkatkan di tengah kemuruh penyakit mematikan ini? Bukankah kesehatan dulu yang terpenting?

Keanekaragaman industri dalam sebuah perekonomian menunjukan sehatnya sebuah negara. Jika terdapat negara yang hanya menggantungkan perekonomiannya pada salah satu sektor tertentu seperti pariwisata saja, tentu hal ini akan menjadikan sebuah negara ketergantungan. Alhasil, pemerintah keteran dan membuat solusi-solusi ngawur. Ke depan pemerintah harus “menguraikan” kebijakan dengan lebih baik lagi.

Sebarkan di Social Media

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *