Teruntuk Cewe-cewe, Kuy Menerima Diri Sendiri

Teruntuk Cewe-cewe, Kuy Menerima Diri Sendiri

Cause Love is an Acceptance Right?

Tulisan ini lama dibuat karena penulisnya bingung bakal mulai dari mana. Ternyata jadi sarjana ilmu komunikasi dari jurusan jurnalistik, tidak menjamin seseorang itu moncer nulis. Aku contohnya. .

Tapi apa yang bakal dibahas di sini, bukan soal lulusan sarjana ilmu komunikasi jurusan jurnalistik yang nggak moncer nulis. Bukan.

Dengan sama-sama belajar, sebagai perempuan aku ingin bahas soal Love Your Self untuk merayakan International Woman’s Day yang jatuh pada 8 Maret kemarin

Apa telat untuk merayakan International Woman’s Day sekarang? Enggak! Because everyday must be a woman’s day. Walaupun tentu tidak tercatat di kalendar.

Kenapa? Dari yang kubaca di internationalwomensday.com, hari itu (International Woman’s Day, red) dibuat untuk merayakan pencapaian perempuan dari banyak hal seperti sosial, ekonomi, politik, termasuk melancarkan kesetaraan gender.

Nah untuk bisa mencapai itu, kan berarti setiap harinya kita harus terus bergerak, maka jadikan setiap hari itu hari kita, hari perempuan. Jadi, setiap tahunnya kita bisa merayakan International Woman’s day sesuai kalender dengan progressive achievement.

Lalu bagaimana memulainya? Aku percaya, itu harus dengan mencintai diri sendiri. Dengan mencintai diri sendiri akan mampu membuat kita percaya diri melangkah.

Memang mencintai diri sendiri adalah hal yang mudah ditulis atau diomongin, tapi sangat sulit dilakukan. Sampe Mbak Tara Basro bela-belain buat postingan soal Body Positivity di akun instagramnya, ya itu kan supaya para perempuan lebih bisa mencintai dirinya sendiri, terutama soal tampilan bentuk tubuhnya.

Lhaaa tega-teganya sama Kominfo postingan itu di-band, alasannya mengandung unsur pornografi.

Btw, emang sesulit itu ya perempuan itu mencintai dirinya sendiri? Mulai dari menerima penampilan atau bentuk fisiknya dulu deh. Emang sesusah itu? Coba tanyakan ke diri masing-masing.

Sudah belum kamu terima atau cinta ke bentuk fisik atau penampilanmu. Kalau belum, ayo kita mulai sama-sama!

*backsound lagunya Fiersa Besari Pelukku untuk Pelikmu*

Liriknya:
“Kau tetap yang terbaik, entah beratmu turun atau naik. . . .”

Gak usah peduli soal orang lain bilang ‘kok kamu kurusan’, ‘kok kamu gemukan’, ‘kok jadi jerawatan’, ‘kok jadi putih banget’, ‘kok item banget’, ‘cewe kok kumus-kumus’.

Tutup telinga soal apapun yang orang lain katakan dan bisa buat semangatmu turun untuk meraih hal-hal besar dalam hidup. Ingat soal kalau kita harus meraih sesuatu.

Karena penampilanmu itu nggak akan jadi masalah selagi kamu melakukan yang terbaik. Lupakan soal gagal atau berhasil, kita hanya harus meraih sesuatu dari yang terbaik yang kita lakukan.

“Tapi kan di mana-mana cewe cantik, putih, langsing itu selalu lebih dapat tempat ketimbang yg item, apalagi yang gemuk. Apalagi di dunia kerja.”

Dengan berat hati aku akan meng-iya-kan, sayangnya hal-hal good looking itu emang acap kali memudahkan seseorang dalam mendapatkan sesuatu. Ya agak asu se. Tanpa mempertimbangkan isi kepala dan kemampuan, arek-arek dengan penampilan berstandart ‘cantik’ itu biasanya lebih dilirik atau lebih dipercaya untuk suatu kesempatan.

Tapi. . . . .
Suatu ketika aku pernah ketemu dengan seorang breast cancer survivor yang dikeluarkan dari kerjanya karena gara-gara dia penyandang kanker payudara.

Dipecat dari pekerjaan itu, ia menjalani operasi pengangkatan payudaranya dan kemudian berusaha cari kerja di tempat lain. Tapi dia pun tetep gak dipercaya – punya kanker payudara dianggap cacat.

Putus asa nggak ada perusahaan yang mau menerima, sementara kebutuhan ekonomi harus tetap disambung, penyandang kanker yang merupakan sarjana ekonomi ini banting setir, berwirausaha. Ia bikin Schotel (makaroni panggang).

Satu dua tahun penghasilannya masih naik turun berwirausaha makaroni panggang berlabel Madame Schotel Surabaya. Hingga pertemuan terakhir kami di World Cancer Day 2019 lalu, dia bilang penghasilannya sekarang sudah lebih besar dari sekadar jadi karyawan.

Berarti kan ‘Gagal di satu pintu, masih banyak pintu lainnya. Ayo putus asa sekali, lalu siap-siap bangun lagi!’

Kuncinya ‘ikhtiar’ katanya. “Daripada terus menerus berharap orang lain ngasih kesempatan. Kenapa nggak buka kesempatan kita sendiri,”  kata owner Madame Schotel Surabaya yang pernah kutemui pas liputan itu.

Walau katanya menerima kekurangan yang ada dalam diri sendiri itu nggak mudah. Tapi kalau terus menerus fokus pada kekurangan, kita nggak akan dapat apa-apa. Butuh waktu memang, tapi kita harus menerima. Terpenting, belajar mencintai diri sendiri. Itu yang kudapat dari perjalanan pemilik Madame Schotel Surabaya.

Soal ‘menerima diri sendiri’ ini juga aku dapat dari teman SMK-ku yang pilih berwirausaha jualan baju di Royal karena tubuhnya gemuk. “Aku lemu ngene ape kerjo nangndi? buka toko ae, pokok iso gawe nyonggo pangan,” itu prinsipnya.

Sederhana, tapi membawa dia mencapai sesuatu dalam hidupnya. Memerdekakan diri sendiri secara finansial.

Salah satu produk sabun ‘Dove’ juga pernah bikin kampanye soal cantik itu beragam. Varian lipstik juga sekarang dibanyakin supaya masuk ke semua jenis kulit.

Jadi jangan khawatir soal visualmu, yang glowing emang cuma visual artis korea. But we can show how glow we are in our way. Mau kurus, mau gemuk, mau putih, mau item.

Kalau tadi owner Madame Schotel Surabaya yang sakit aja bisa menyalakan lampu kehidupannya lagi. Percayalah kamu pun bisa.

Mulai dari menerima – perlahan mencintai dirimu sendiri (Love Your Self, red)- make a goals – achieve – then let’s glow!

Ini aku tulis sebenarnya juga untuk menyemangati diri sendiri. Makanya tadi di awal kan aku bilang “Ayo kita mulai sama-sama. Ayo mulai menerima diri sendiri, entar juga cinta-cinta sendiri. Cause love is an acceptence kan?” Hahahahaha.

Oiyaaa bagaimana menerima diri sendiri itu harus dibangun tiap hari. Karena setiap hari biasanya ada yang bikin pertanahanan kita soal ‘menerima diri sendiri’ itu runtuh.

Gimana cara bangunnya? Hatimu yang tahu caranya, aku cuma bisa kasih saran: tutup telinga dari omongan-omongan orang yang menebar hawa negatif, dan bolelah mendengarkan lagu-lagu teduh dari para musisi seperti Scars to Your Beautiful-nya Alessia Cara.

Kukasih cuplikan liriknya ya, menurutku ini memotivasi banget untuk kita para perempuan yang mau bergerak maju dengan mencoba menerima diri sendiri.

“Oh, she don’t see the light that’s shining
Deeper than the eyes can find it
Maybe we have made her blind
So she tries to cover up her pain and cut her woes away
‘Cause cover girls don’t cry after their face is made

But there’s a hope that’s waiting for you in the dark
You should know you’re beautiful just the way you are
And you don’t have to change a thing, the world could change its heart”

Sebarkan di Social Media

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *