Menjamah Moderenitas Indonesia Timur Lewat Lagu-lagu Ambyarnya

Menjamah Moderenitas Indonesia Timur Lewat Lagu-lagu Ambyarnya

Su lama dekat hampir maso minta
Hati su ancur mo kas salah sapa
Aduh mama ini paling sial ow
Su jaga bae bae orang pu jodoh

Sa jaga bae bae, jaga bae bae
Nyonge pu hati sa jaga bae bae
Tapi di akhir baru putus sa menyesal
Su jaga bae bae orang pu jodoh

Kasih slow, kasih slow
Kasih slow, kasih slow tempo
Kasih slow kasih slow
Kasih slow atau nanti kaco

Itu sepenggal lirik lagu berjudul Kasih Slow Jaga Orang Pu Jodoh yang dilantunkan oleh Sanza Soleman, penyanyi muda asal Maluku Utara. Lagu itu booming pada 2019 lalu hingga sekarang di Indonesia Timur. Musiknya yang bernuansa elektronik ramah dengan hasrat joget dan budaya dugem orang-orang Indonesia Timur. Bahkan sekarang adakalanya dipakai untuk musik pengiring senam.

Lirik lagunya berisi soal kekacauaan dan patah hati seseorang. Tapi dendangan musiknya bikin orang bahagia dan melupakan tumpukkan kata-kata getir itu. Orang-orang yang mendengar lagu itu akan masuk ke arena joget dan mulai menggerakkan kaki dan tangan.

Di Indonesia Timur, lagu-lagu macam begini banyak bertebaran, lirik patah hati tapi bikin bagoyang. Jika dibandingkan seharusnya musik seperti ini tak kalah mentereng dari lagu-lagu mendiang Didi Kempot yang dikenal, merayakan patah hati tanpa perlu menangisinya.

Sayang tak banyak yang menyadarinya. Padahal lagu-lagu seperti ini harusnya sudah menjadi komoditas di Indonesia Timur kontemporer. Di Papua misalnya, penciptaan lagu-lagu yang bernuansa elektronik dan hip-hop banyak digalakan anak-anak muda. Dulu sebelum Youtube masuk, lagu-lagu ciptaan mereka didistribusikan ke website-website musik macam Reverbnation. Lagu itu tersebar ke seluruh Papua dan dinyanyikan di acara-acara joget.

Soal genre lagu, saya tidak begitu paham mengapa kiblat mereka malah ke lagu-lagu macam begitu. Padahal industri musik di Jakarta (Jawa) -yang jadi pusat segalanya- saat itu hingga sekarang didominasi oleh pop yang kini ke indie-indie-an. Tapi bolehlah sedikit saya asumsikan bahwa bisa jadi orang-orang ini mirip dengan orang Afro-Amerika. Mereka membuat lagu sendiri karena tak ingin tunduk pada ketidakadilan yang sudah lama mereka alami. Juga rasanya adalah hentakan representasi dari pemberontakan. Bisa jadi.

Eksotisme VS Moderenitas

Di ranah ilmiah yang seharusnya lagu menjadi satu-satunya harapan, namun di sana (Indonesia Timur) justru tak mendapatkan tempat.

Para peneliti masih stagnan pada perkara-perkara yang berbau tradisional. Gambaran ini seolah mendukung adanya perkembangan ekonomi dan pendidikan yang hanya bertumpu di situ-situ saja. Seharusnya lewat lagu, Indonesia Timur bisa menyusul moderenitas seperti layaknya di Jawa.

Namun, ujungnya alih-alih membawa pada pengayaan literasi yang mampu memajukan Indonesia Timur dengan menunjukkan kehidupan mereka secara gamblang, malah melahirkan perspektif sempit yang itu-itu saja macam eksotisme.

Eksotisme melahirkan imaji peradaban Indonesia Timur yang masih murni, alamiah dan jauh dari sentuhan modernitas hingga menjadi tempat yang nyaman menenangkan diri. Padahal kemurnian itu bisa juga berarti terbelakang. Ironisnya, inilah yang kemudian dimanfaatkan sebagai perkakas pariwisata oleh cukong-cukong turisme.

Hasilnya, sampai saat ini bisa kita lihat stereotipe-stereotipe pada orang Indonesia Timur bahwa mereka masih primitif masih sering kita dengar.

Ada banyak faktor yang mesti dilihat sebenarnya. Kembali ke lagu. Tentu, biar pun sudah menjadi nyawa banyak acara, tidak banyak orang bergantung hidup dari lagu-lagu itu. Sebab bagaimana pun hidup mereka berada di bawah tendensi politis yang besar.

Di Ambon, yang dapat julukan Kota Musik Indonesia, musisi-musisi lokalnya tak banyak tersorot. Itulah yang kemudian dikatakan oleh sastrawan Eko Putra Pocheratu dalam puisi Blacklist-nya:

Ambon Kota Musik, blacklist
Jadi musisi di Ambon itu kaya biking kabon
Ale barubuh pohon, pameri rumpu piso
Ale kasbarsih samua, tanam kasbi
dari tanggal muda sampe tua
Mar yang makang akang itu, Babi !!

Sebarkan di Social Media

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *