Menjadi ATM Berjalan hingga Driver Online Gratis Ongkir

Menjadi ATM Berjalan hingga Driver Online Gratis Ongkir

Tak heran lagi kata bucin atau budak cinta ialah pitutur ikonik bagi individu yang mempunyai pasangan. Yaiyalah jomblo bucinnya sama siapa dong? Namun predikat bucin juga ada loh level-levelnya, dari yang menye-menye seperti menjadi tukang ojek gratis ongkir, ATM berjalan hingga menjadi pembokat asmara.

Sebagian besar pasangan, menjadi bucin ialah hal tabu, tapi bagaimana jika predikat ini diterapkan di luar batas nalar kita? Seperti halnya atas kasus penusukan seorang remaja di salah satu hotel di Bali pada Desember tahun kemarin. Pelaku diduga cemburu hingga berani menghabisi nyawa kekasihnya. Tapi eits! Kita tidak bahas soal pertumpahan darah kok, tapi lebih tepatnya pertempuran hati seperti kata NTRL.

Portofolio bucin ATM berjalan
Melihat fenomena itu kali ini redaksi abstain.id mencoba berdialektika dengan para kaum bucin yang sebagian besar ialah generasi milenial. Senya, mahasiswa yang sedang menempuh studi pendidikan di perguruan tinggi di Surabaya itu, mengakui jika menjadi bucin membuat kantong dompetnya semakin mengering.

Bagaimana tidak, dengan kondisi sadar Senya dengan mudahnya memberikan anggaran kepada si pasangan untuk membeli perlengkapan yang dibutuhkan doi. Dan, momen-momen ini berlangsung hampir setiap ngedate loh!

“Aku ngerasa dirugiin secara finansial. Terus waktu bareng teman dan keluarga jadi terbatas. Tapi paling sering sih aku kasih duit ke pasanganku mungkin karena faktor ekonomi si pasanganku ini  jadi lebih membantu dia dalam kehidupan sehari-hari kaya kasih makan, jajanin gitu.  Sampek aku beliin dia sepatu, baju, jam, tas udah parah juga sih udah keluarin duit jutaan tapi ga ada feedback nya ya bukanya berharap sih, tapi jadi ngerasa rugi banget”, ujar Senya.

Portofolio driver online gratis ongkir
Menjadi driver online tentu sah-sah saja karena itu pekerjaan halal yang tak merugikan orang, dan yang penting dapat duit dan rezeki untuk anak bini. Nah ini justru ada seorang pemuda yang sukarela menghabiskan tenaganya untuk antar jemput penumpang dengan tarif asmara. Capek bor.

Selain Senya, adapula Anis yang terjebak dalam predikat bucin. Perempuan yang akan menikah dalam waktu dekat tersebut mengaku pernah menjadi bucin hingga stres sendiri.

“Pas bucin aku susah tidur tiap malem, selalu memikirkan dia sih, terus setiap keluar sama dia selalu aku yang bawa motor dan yang jemput dia kemana – mana  tuh aku, terus dia juga gak pernah ada duit selalu aku seng (yang) ngeluarin uang sampai aku juga lupa sama temen – temenku saat itu”, ujar Anis.

Ini masalah otak
Dalam sudut pandang kesehatan, Bucin tentu saja tidak disarankan. Walaupun atas nama cinta, tapi hubungan bucin biasanya adalah hubungan yang merugikan satu pihak. Lalu kenapa orang bisa bucin ?

Dikutip dari halodoc.com Dalam Jurnal Neuro Image yang dirilis oleh Unuversity College of London (2004) menduga penyebabnya adalah cara otak mengartikan cinta atau kasih sayang. Perasaan cinta secara umum merangsang bagian otak yang bernama amygdala dan nucleus accumbens untuk memunculkan rasa kepuasan batin dan sensasi euforia. Nah Euforia itu sendiri adalah perasaan gembira yang berlebihan.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa  perasaan cinta merangsang otak membangun ikatan emosional yang kuat antar dua manusia dengan meningkatkan rasa gembira dan bahagia, sementara itu justru otak menonaktifkan bagian otak yang digunakan untuk menalar logika, menimbang risiko dan keburukan, serta memunculkan emosi negatif.

Uniknya, peneliti menemukan bahwa otak mengartikan cinta romantis antara dua insan sama dengan cinta naluriah dan ikatan emosional antara ibu dan anak. Maka dari itu, efek cinta buta dengan cinta antara ibu dan anak sekilas bisa tampak sama. Sama-sama membuat kita jadi susah melihat kekurangan atau keburukan orang yang dicintai.

Misalnya, kamu adalah anak yang pemalas, ga bekerja, demo atas nama kemanusiaan tapi perilakumu ga manusia banget, tentu ibu mu masih bisa memandang dan memaklumi kenakalanmu. Seperti itulah cinta buta antara dua insan yang berbeda. Para bucin akan menoleransi setiap kejelekan dari pasangannya sehingga bisa dikatakan mirip mirip lah dengan kasih sayang seorang ibu.

Bahaya dari terlalu sering menoleransi kelemahan dan menutupi kelemahan pasangan adalah adanya bias khayalan positif. Bias khayalan positif adalah situasi dimana kamu Selalu membangun kesan positif dan anggapan positif pada pasangan. Baik sih, cuman terlalu sering juga berdampak negatif. Salah satu dampak negatifnya adalah para bucin selalu menutupi kekurangan pasangan sehingga hubungan jadi tidak sehat lagi. 

Misal begini, pacarmu sebenarnya sudah lama manfaatin kamu secara finansial nih. Orang lain yang tidak kasmaran dengan dirinya dapat mencium gelagat aneh tersebut, tapi umumnya tidak bagi para bucin.

Karena di otak para bucin sudah terpampang ilusi positif tentang pasangan sehingga para bucin akan cenderung menampik kenyataan tersebut sebagai salah paham atau justru tidak memedulikan tanda-tandanya. para bucin mungkin juga menganggapnya sebagai karakter pasangan yang baik. 

Parahnya lagi jika pasangan sampai menggunakan kekerasan. Cinta buta sering menyamarkan hal yang negatif menjadi positif, sehingga nantinya para bucin akan sulit untuk keluar dari khayalan yang dibangun tentang pasangannya.

Karya: Anggadia Muhammad, Audy Maulidya, Puspita Dewi

Sebarkan di Social Media

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *