Membayangkan Hidup Menjadi Kata-kata Biasa

Membayangkan Hidup Menjadi Kata-kata Biasa

Ada satu topik pembahasan dalam Bahasa Inggris yang khusus menerangkan tentang kata penghubung antar frasa, klausa, atau kalimat, seperti Who, Where, Why dan lain sebagainya. Istilahnya Conjunction .

Kemarin di kelas kursus, saya dapat pembahasan soal salah satu jenisnya, yang ini termasuk dalam bagian dari Adverbial Clause of Time , atau klausa keterangan waktu, conjunction- nya berupa When, Whenever, dan As .

Nah, saat tutor selesai menulis, ia bilang sebenarnya ada beberapa conjuction lain yang juga bisa dipakai dan memiliki arti “ketika”, maknanya sama kayak tiga conjunction di atas.

“Tapi, kata-kata itu tidak umum dipakai, jadi kalian ingat tiga itu dulu,” kata si tutor.

Lalu, di akhir kelas ia memberi tahu dua conjuction yang tidak umum, seperti Whereat dan Whereupon , yang memiliki makna sama yaitu ketika.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, ponsel saya bergetar, ada pesan WhatsApp yang masuk. Kulihat ternyata dari Anthony. Ia mengirim naskah dan meminta saya untuk mengedit. Tulisan itu untuk salah satu media asik di Surabaya, Abstain.id .

Lalu saya baca lah naskah itu. Di-headline ada kalimat yang berbunyi: “Saya ingat betul pertama kali menggelonggok minuman alkohol saat masih SMP.”

Saya tiba-tiba tertegun membaca kata “menggelonggok”. Karena kata ini terasa asing di lidah dan di kepala, saya pun tak menemukan arti apa-apa. Lalu saya buka KBBI dan artinya ternyata minum.

Lantas saya ganti saja kata itu dengan kata yang lebih umum, menenggak.

Setelah kejadian itu, saya menyadari satu hal. Bahwa ternyata ada beberapa kata di dunia ini, yang keberadaannya hanya untuk kita ketahui dan sesaat kemudian kita melupakannya, tidak untuk kita bagi.

Maksud saya, kata yang memang jarang ditemui di tulisan-tulisan atau memang tidak umum dipakai. Jadi sifatnya, mereka hanya untuk sekadar pelengkap dan pemanis hidup.

Tapi apakah demikian sia-sianya hidup mereka?

Saya lalu terpikirkan firman tuhan yang kurang lebih isinya begini, bahwa segala sesuatu tercipta pasti ada tujuannya. Benar juga, mereka pasti diciptakan untuk sesuatu hal.

Tapi bagaimana jika mereka memang diciptakan hanya sebagai pelengkap saja? Maka mungkin itulah tujuan hidupnya. Dan kupikir itu lebih baik.

Begini, bayangkan mereka itu hidup di dalam sebuah semestanya sendiri. Kata-kata yang tak dianggap ini hidup dengan biasa-biasa saja.

Mereka pergi ke kantor bahasa dengan senyum, dan pulang dengan menyenangkan. Mengantre macet dengan biasa saja, membaca setiap syarat dan ketentuan sebelum mencentang box setuju dalam formulir. Mereka menaati aturan apa pun.

Malamnya mereka tidur di rumah sembari diiringi lantunan musik indie, macam lagu Tentang Rumahku-nya Dialog Dini Hari.

Sepanjang zaman, mereka hanya menetap di kamus dan keluar sesekali untuk menyapa manusia. Hidupnya sangat baik-baik saja dengan itu.

Mereka adalah setumpuk ‘kata’ baik-baik yang kau tahu, ia tak pernah punya masalah hidup apa pun; tak berdosa dan tak memiliki ambisi apa-apa.

Kata yang tak terbebani dengan pekerjaan, masalah skripsi, puisi, memahami urusan tetangga atau masuk ke dalam mimpi-mimpi anak muda.

Ia seperti manusia bahagia ala Gus Mus yang pernah berkata dalam tayangan Mata Najwa—yang jika boleh saya plesetkan menjadi kata—bahwa kata yang bahagia itu adalah kata yang tak punya apa-apa tapi juga tak butuh apa-apa.

Kata-kata yang tak peduli dan mereka masih baik-baik saja akan hal itu. Tak punya jenis problematika mental, apalagi masuk dalam rentetan makian-komentar netizen di media sosial.

Mereka mungkin sesekali berlibur ke buku atau ke kepala dosen sastra, tapi mereka tak akan berlama-lama. Mereka selalu pulang atau dikembalikan ke rumah mereka. Menunggu giliran diketahui kemudian dilupakan. Dan itu tak pernah jadi masalah.

Maka, sesungguhnya kata-kata yang tak pernah kita pakai dan tak pernah kita ketahui adalah kata-kata yang sempurna dan bahagia.

Mereka hanya milik dirinya sendiri, dan hidup mereka akan tetap abadi di dalam kamus atau di kepala seseorang sastrawan yang hidupnya dihabisi kata-kata.

Sebarkan di Social Media

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *