Kita dan Pentingnya Kesadaran terhadap Kesehatan Psikologis

Kita dan Pentingnya Kesadaran terhadap Kesehatan Psikologis

Belakangan, beberapa kesempatan membuat saya bersinggungan dengan hal-hal berbau kesehatan mental atau kesehatan psikologis. Di tengah kehidupan yang semakin moderen, penggunaan sosial media yang terlampau bebas, serta hal-hal yang begitu tampak serba instan, jauh di suatu tempat ada beberapa orang yang meringkuk sendirian tak melakukan apa-apa, hanya sibuk dengan kepala dan keresahan mereka sepanjang malam.

Orang-orang ini tak selalu mengerti apa yang ada dalam pikiran mereka, kosong atau terlalu banyak, mereka tak pernah mengerti. Begitu juga dengan keresahan yang kerap muncul di dada mereka, ada rasa ingin melakukan sesuatu tapi entah apa. Cerita keluh kesah ini ke teman, tapi temannya pun bingung harus memberi solusi atau memperlakukannya bagaimana.

Sejauh ini, terhitung empat orang di sekeliling saya yang mengalami hal serupa, dua diantaranya karena broken home. Orang tua mereka cerai. Saya sebenarnya tidak sepenuhnya mengetahui apa yang telah mereka lalui selama ini. Tapi singkatnya begini cerita-cerita mereka:

Orang pertama: bila dilihat dari sisi luar, ia seperti remaja pada umumnya. Periang, humble, dan rame saat sedang ngumpul. Tapi hal itu tenyata kadang cuma topeng.

Pernah suatu ketika ia mengaku kepada saya bahwa segala yang ia perlihatkan kepada teman-teman itu adalah upaya agar rasa sedihnya hilang. Ia ingin menghibur orang lain dengan menjadi seseorang yang lucu. Tetapi sebetulnya, ia sedang menghibur dirinya sendiri.

Ia mengaku kesepian, dan sangat sedih jika ia sedang di rumah. Terkadang, ia memperlihatkan kesedihannya melalui story Whatsapp. Saya merasa tak tega, kadang saya pun bingung apa yang bisa saya lakukan selain memberi semangat. Yang paling parah, ia pernah menyilet pergelangan tangannya, saat patah hati.

Orang kedua: persoalan yang sama, broken home. Teman saya ini menceritakan hampir seluruh apa yang ada dalam pikirannya dan apa yang ia rasakan, ketika berada di rumah. Selama ia bercerita, dalam waktu yang berkala, hampir selalu saya menangis. Karena saya tidak bisa membayangkan betapa beratnya menjadi dia. Tekanan dan tuntutan dari kedua orang tuanya, dan segala hal lain yang ia keluhkan.

Saya menyarankan dirinya untuk mendatangi konsultasi psikologi gratis yang diselenggarakan oleh beberapa lembaga di Surabaya. Untungnya ia melakukannya, dan suatu waktu ia bilang ke saya bahwa curhat dengan orang-orang di lembaga itu cukup membuat dirinya tenang. Sebab orang-orang di lembaga psikologis itu memberikan solusi yang dapat diterapkan untuk mengatasi masa kritisnya ini, katanya.

Orang ketiga: teman saya yang berdomisili di Jakarta. Di rentang hubungan kami, suatu hari, ia memberi tahu saya bahwa kecemasan, resah, dan ketidaktenangan telah masuk ke dalam hidupnya. Tetapi ia tak mengerti alasan apa yang melandasi semua itu. Lalu solusi yang ia ambil, ia menenggak obat penenang setiap kali ia merasakan hal yang tidak baik-baik saja itu.

Aktivitasnya sebenarnya biasa saja. Saat pagi, siang, dan sore hari, ia kuliah dan melakukan beberapa kegiatan di luar perkuliahan, dia adalah anaak muda yang normal pada umumnya. Tetapi saat ia pulang ke rumah, sendirian di kamar, kecemasan yang entah karena apa akan datang bertubi-tubi.

Jika sudah merasa cemas, ia minum obat penenang yang belakamgan kemudian saya tahu obat itu bernama Abilify (obat terapi rumat untuk skizofrenia akut dan gangguan bipolar pada anak, remaja, dan dewasa). Ia mendapatkannya dari psikiater, katanya.

Saya sejujurnya terkejut, tapi tak berani bertanya lebih banyak mengenai apa yang dia alami itu.
Orang keempat: seorang teman yang juga sudah datang ke psikiater, serta melakukan terapi. Ia divonis dokter menderita Skizofrenia. Menurut ceritanya, ia kerap mengalami sleepwalking saat malam hari, membentur-benturkan kepala ke tembok, dan menangis tanpa sebab.

“Jadi, alam bawah sadarku yang stress,” katanya.

Ia juga mengkonsumsi obat, tentu, itu untuk meredakan cemas, nyeri, dan supaya ia bisa tidur nyenyak. Juga meredakan perasaan sensitif dan mudah terasa terintimidasinya.

Begitulah sedikit cerita dari kawan-kawanku. Sejauh ini kamu mungkin sedikit mendapat cerita atau detil mengenai mereka. Saya akui itu dan memang saya sengaja.

Perihal bagaimana lengkap dan detilnya mengenai mereka, saya sejujurnya tak berani menanyakannya secara langsung. Karena saya pikir, ada bagian-bagian tertentu yang cukup mereka yang tau. Saya sebagai teman, tak punya hak untuk menggali info sampai sedalam itu. Mungkin itu adalah hal yang sensitif atau tabu, sama seperti saat kita membahas tentang seks.

Tetapi yang saya yakini adalah kita dapat menjadi pendengar dan teman baik untuk mereka. Sebab mereka sesungguhnya akan selalu perlu teman. Bahwa ada saat mereka butuh, saat mereka ingin didengarkan.

Tidak semua dari mereka, yang merasakan gejala-gejala yang mengarah pada kesehatan mental dan psikologi ini, memiliki kesempatan untuk mendatangi psikiater. Apalagi untuk melakukan terapi. Selain karena faktor ekonomi, kesiapan mental untuk menghadapi kenyatan juga sangat perlu dipersiapkan, dan itu bagi beberapa orang berat dilakukan.

Tetapi buat teman-temanku yang sedang merasakan tekanan demikian besar seperti yang dialami keempat orang di atas, sungguh tak ada salahnya mendatangi psikiater. Justru, itu adalah solusi terbaik. Karena kita tak boleh memvonis diri kita sendiri sebagai seorang yang sakit apalagi merasa masih baik-baik saja di tengah riuh suara di kepala.
Saya mengerti apa yang teman-teman takutkan.

Karena budaya kita yang kerap menganggap orang yang sakit psikologi adalah orang gila. Padahal, ini budaya keliru. Justru, kita harus saling merangkul dan menguatkan. Siapapun bisa mengalaminya, termasuk diri kita yang sedang merasa baik-baik saja. Mungkin saja sedang terjadi, tetapi kita tak sadar.

Dengan mengetahui studi kasus yang menimpa empat orang ini, saya menjadi lebih aware dengan kesehatan mental. Dunia memang tengah menuntun kita ke arah yang lebih cepat, tapi ini jangan sampai mengabaikan kesehatan diri, terutama kesehatan mental jauh lebih penting.

Dunia begitu luas dan kita selalu punya pilihan: membatasi diri dari lingkungan dan orang-orang toxic, mengurangi penggunaan media sosial agar tidak muncul rasa insecure, me-manage pikiran agar tidak overthinking, memilih teman yang satu frekuensi, menyalurkan perasaan ke hobi atau hal-hal positif, bercerita kepada orang lain maupun melalui tulisan.

Apapun bisa kita lakukan untuk menjaga dan memastikan bahwa psikologi kita baik-baik saja. Ayo, mulai sekarang. Love yourself first. Stay away from toxic circle. Semoga kita semua berbahagia.

Sebarkan di Social Media

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *