Kediri dan Tempat-tempat Lain yang Tak Perlu Ditakuti Jokowi

Kediri dan Tempat-tempat Lain yang Tak Perlu Ditakuti Jokowi

Belakangan jagat maya dan nyata digegerkan dengan merebaknya lagi mitos lama, yang menyebut bahwa Presiden Republik Indonesia tak boleh menginjakkan kaki di Tanah Kediri. Mitos itu menyebut bahwa bagi siapapun pimpinan negeri yang melanggar maka malapetaka —dilengserkan dari tampuk jabatannya— pun bakal jadi ganjarannya.

Mitos itu, kembali merebak lantaran Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung mengaku sengaja melarang Presiden Jokowi, untuk berkunjung ke Kediri karena khawatir Jokowi bakal dilengserkan. Parahnya hal itu dikatakan Pramono persis di depan kiai-kiai Lirboyo, Kediri. Sontak hal itu, menuai pro-kontra.

Mitos ini sebenarnya, sudah dipercaya sejak era kepemimpinan Presiden Pertama RI Soekarno, lalu Presiden ke-3 BJ Habibie dan terakhir Presiden ke-4 KH Abdurrahman Wahid atau karib dikenal dengan Gus Dur. Ketiganya disebut lengser tak lama setelah berkunjung ke Kota Tahu ini.

Kemudian Presiden ke-2 Soeharto, disebut bahkan tak pernah mau sekalipun bertandang ke Kediri. Padahal kita tahu, orde baru berlangasung begitu lama, terhitung 32 tahun, sejak 1966 hingga 1998 belio memimpin bangsa ini, masak main-main ke Kediri, barang cuma sehari dua hari saja nggak sempat sih, Jenderal?

Menurut, Pengamat Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Purnawan Basundoro, apa yang dikatakan Pramono tersebut memanglah bagian dari kepercayaan masyarakat Kediri. Sudah mendarah daging, apalagi dikultur masyarakat Jawa, yang masih begitu kental.

“Memang sebagian masyarakat itu kan masih percaya dengan hal semacam itu, dan itu memang kepercayaan yang berakar jauh pada tradisi kita,” kata Purnawan.

Namun, Purnawan mengatakan mitos yang dipercaya masyarakat tersebut belumlah bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ia sendiri mengaku selama ini, dirinya belum menemukan catatan sejarah atau manuskrip yang jelas membenarkan adanya kutukan tersebut.

Salah satu literatur yang dipercaya memuat tentang kutukan tersebut adalah riwayat Babat Khadiri, sebuah manuskrip kuno yang menceritakan tentang kejayaan kerajaan Kediri, karangan Mas Ngabei Purbawidjaja. Namun, Purnawan tak yakin betul kutukan itu dikisahkan di dalamnya.

Dikutip dari merdeka.com, dalam riwayat Babat Kadhiri, konon terdapat kutukan pada kerajaan Kediri tatkala terlibat dalam peperangan dengan musuh. Bunyinya, “Jika pasukan Kediri menyerang musuh di daerah lawan lebih dulu akan selalu memenangkan pertempuran, akan tetapi sebaliknya jika musuh langsung menyerang ke pusat kerajaan Kediri lebih dulu maka musuh itu akan selalu berhasil memperoleh kemenangan yang gemilang.”

“Saya belum pernah membacanya, Babat Khadiri seperti apa isinya terkait dengan kutukan itu, tapi memang setahu saya seperti misalnya ramalan tentang Jayabaya, kalau dalam kajian sejarah itu bersifat post-factum, jadi setelah kejadian barulah orang cari referensi masalalunya,” kata Purnawan menanggapi.

Purnawan mengatakan, hanya satu Presiden RI yang berhasil menginjakkan kakinya di Kediri, tanpa mengalami bala pelengeseran setelahnya. Ia adalah the one and only, Susilo Bambang Yudhoyono. SBY sapaan karibnya disebut mengunjungi kediri 2007 silam. Sesaat setelah Gunung Kelud meletus.

“Terkait dengan mitos bahwa presiden yang datang ke Kediri itu lengser itu saya kira tidak selamanya benar, terbukti SBY dulu ke sana, ke Kediri pada saat Gunung Kelud meletus, datang ke pengungsian. Artinya kalau kita mengacu pada itu, ya tidak benar bahwa presiden yang datang ke kediri itu otomatis akan lengser,” katanya.

Namun, berdasarkan kisah kepercayaan masyarakat sekitar, kutukan itu kerap dikaitkan dengan beberapa titik di Kediri. Seperti Simpang Lima Gumul, yang dipercaya sebagai pusat Kerajaan Kediri. Kemudian juga Sungai Brantas yang memiliki tuah lantaran diyakini menjadi tapal batas Kerajaan Kediri. Sebuah mitos menyebut bila ada raja —kini disebut presiden—, masuk ke Kediri melewati Sungai Berantas, maka ia akan lengser.

Percaya atau tidak, tapi SBY sendiri pernah mengakui bahwa dirinya memanglah mendengar cerita itu. Dan untuk menghormati mitos masyarakat tersebut, ia pun memilih melewati jalan melingkar melalui Blitar sebelum tiba di Kediri.

Sementara itu, sejarawan muda, Adrian Perkasa, mengatakan mitos larangan preside datang ke Kediri muncul lantaran banyaknya peninggalan kerajaan masa lalu yang hilang, rusak, atau tertimbun dan hingga kini belum ditemukan. Hal itu erat berkaitan dengan Islamisasi Kediri, yang termaktub dalam Babad Daha-Kediri, yang mengisahkan bagaimana Sunan Bonang menghancurkan arca-arca yang dipuja masyarakat Kediri.

“Munculnya mitos larangan penguasa ke Kediri itu bisa jadi muncul karena banyaknya peninggalan masa lalu/purbakala Kediri yang kemudian hilang, rusak, atau tertimbun di dalam permukaan tanah,” kata Adrian yang juga Dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unair ini.

Tak heran, kata dia mengapa kemudian banyak timbul tafsiran, interpretasi bahkan mitos-mitos, tiap orang, tiap kelompok yang berbeda. Tiap masyarakat memiliki kepercayaan dan pemikirannya sendiri-sendiri.

Daerah Kediri, kata Adrian, memang memiliki catatan sejarah yang panjang. Terutama pasca Raja Airlangga berkuasa di Jawa, Abad XI Masehi. Kemudian berkembang pesat di masa Raja Kameswara hingga Prabu Jayabaya.

Di masa kerajaan Singasari hingga Majapahit, wilayah Daha (Kediri) selalu menjadi daerah prioritas dan dijadikan ibu kota kerajaan. Seperti misalnya Raja Kertanegara yang diangkat sebagai pangeran atau raja muda di Kediri, sebelum menduduki tahta sebagai raja Singasari

Kemudian karir Gajah Mada sebagai patih, bermula di Kediri dulu sebelum diangkat sebagaj patih Majapahit. Bahkan di akhir Masa Majapahit, raja memindahkan ibu kota kerajaan itu ke Kediri.

“Jadi sebenarnya secara historis Kediri justru penting artinya. Bahkan di jaman kolonial pun dijadikan Kota Karesidenan,” kata dia.

Terlepas dari itu semua, Purnawan meminta agar Presiden Jokowi tak perlu takut, dan berlebihan memikirkan tentang mitos kutukan. Ia menyebutkan mitos-mitos semacam itu hanya akan merugikan masyarakat di daerah. Lantaran jika terus dipercaya, maka akan semakin melekat pula stigma negatif pembawa kutukannya.

“Sebagai seorang pemimpin, Pak Jokowi tidak boleh ragu untuk mengunjungi daerah manapun, karena kalau misalnya presiden itu ragu, semacam itu, nanti daerah akan terkena stigma, bahwa ini daerah yang tidak dikunjungi, dianggap tidak sama tapi dari aspek negatifnya itu yang tidak boleh terjadi,” kata Purnawan, memungkasi.

Dear Pak Jokowi, menurut Abstain.id, tak ada yang perlu ditakutkan jenengan saat berkunjung ke Kediri, kok. Ajak Jan Ethes sekalian pak. Kalau jenengan sudah berani ke Kediri, yuk main-main ke juga ke rumah-rumah warga di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, yang hidupnya dalam bayang-bayang kerusakan lingkungan akibat pertambangan emas Tumpang Pitu. Jangan lupa mampir juga ke pemukiman warga di Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban.

Ingat pak, mampirnya ke rumah-rumah warga, bukan ke lokasi pembangunan kilang PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI). Terakhir saat jenengan ke sana tiga orang petani —Wawan, Mashuri, dan Basori— ditangkap pulisi, sesaat ketika mereka mau melakukan aksi menuntut keadilan lingkungan tempat mereka tinggal.

Sebarkan di Social Media

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *