Aku, Minuman Alkohol dan Keyakinanku pada Minuman Enak Ini

Aku, Minuman Alkohol dan Keyakinanku pada Minuman Enak Ini

Saya masih ingat betul pertama kali menenggak minuman alkohol. Waktu itu kelas 8 SMP. Aku ditemani Lucky, teman sekelasku, yang kuyakin betul ia sudah punya pengalaman minum waktu itu.

Kami duduk di sebuah halaman kecil samping warnet game online dekat rumahku ketika itu. Sesaat si Lucky ngeluarin cukrik yang baru saja kami beli. Aku deg-degan juga. Tapi sebagai anak laki-laki yang saat itu masih dipenuhi dengan rasa penasaran, bodoh amatlah.

Lucky menuangnya di gelas plastik, ia berikan padaku gelas berisi cukrik itu, dan kuminum dan mmm, mmm, kenapa sakit sekali ditelan, tapi kok enak, nagih, mmm, aahhh. Aih, rasanya, kuingat betul, nyegrak.

Itulah perkenalan pertamaku dengan minuman enak itu dan selanjutnya, kau tahu sendiri, aku mulai ketagihan.

Bersama Lucky banyak pengalaman peralkoholan yang kami lewati. Mulai dari cara minum hingga jenis dari minuman alkohol ini.

Cara minum pakai lepek, nyeruput arak di kantong plastik pakai sedotan, sampai minum pakai bekas minuman gelas plastik harga 500-an itu. Kami sudah pernah coba

Kebetulan saat mabuk-mabukan, Lucky selalu menjadi bandar. Ini karena ia yang paling pengalaman. Bandar di sini artinya yang bertugas mengatur pembagian regulasi minuman biar terbagi rata.

Kalau pake gelas plastik, gambar ukiran gunung jadi takarannya. “Tak bandari ae sak gunung sik ben alus (ngangkat’e) mabok’e,” ucapan itu masih terngiang betul hingga kini. Jika ia sudah bilang begitu botol kemudian akan diputar.

Kami menenggak oplosan ikemasan 600 ml sampai habis. Terkadang sama Lucky dicampuri teh bersoda kadang juga minuman sachet. “Biar rasa buah,” katanya.

Maklum waktu itu modal kami adalah sisa uang jajan dari orang tua (ngapunten pak-bu). Yang penting prinspnya adalah mabok dulu lah.

Kalau sudah mau habis minumannnya, bagi siapa yang terkena putaran terakhir
wajib hukumannya mengucap kata ‘Tongseng’ dan yang lain akan jawab dengan “werrr”

Entah darimana sejarah dan asalnya ritual itu, tapi kami sepakat kata itu harus diucap sebagai bentuk penghormatan sebelum menuntaskan sisa-sisa alkohol.

Berlanjut SMA dan kuliah, Kebiasaan mabok-mabok tetap kami rawat dan kami jaga. Sekalipun, saat itu sekolah kami sudah terpisah, tapi kami tetap menyempatkan waktu ketemu buat minum-minum.

Sampai-sampai aku dan Lucky punya kata plesetean dari ‘beralkohol’ menjadi ‘beralkonyol’. Plesetan itu muncul karena memang saat mabuk kami menyadari, kami berulah konyol.

Bertumbuh dewasa, pemikiran saya makin dibuat penasaran mengulik segala jenis kenamaan merek-merek minuman enak ini. Terutama minuman-minuman alkohol berbotol kaca.

Ternyata untuk mendapati itu, saya harus masuk ke dalam bar, club, atau pub.
Di Surabaya sendiri tidaklah sulit untuk mencari tempat-tempat itu. Tinggal sercing lewat gugel, rasanya setiap sudut Surabaya pasti tersedia. Ini tidak seperti keberadaan tempat beli cukrik dan arak. Karena untuk mencari itu, kamu harus menggunakan kepekaan intuisi.

Menjamurnya bar, club, atau pub telah menjadi gaya hidup. Rasanya separuh lebih pemuda-pemudi di Surabaya pernah mengunjungi tempat-tempat ini. Maka tak heran bagi saya sering menjumpai postingan kawan sedang asyik menikmati sebotol minuman alkohol sambil ditemani irama musik hingga berakhir dengan jamming.

Postang-posting di tempat seperti ini kemudian menular. Kawan-kawanku yang dulu waktu sekolah ku kenal diam, eh sekarang main di bar. Trus mereka yang lihat story akan komen ‘wihhh n69errii’.

Mungkin kegiatan seru ini sekarang menjadi gaya hidup bagi masyarakat kota. Pun, tentu saja mereka punya alasan-alasan tertentu mengapa mengunjungi tempat-tempat itu. Mulai mengusir penat, stress karena masalah, hingga putus cinta sudah hal biasa yang sering saya dengar.

Memang sih, banyak peneliti yang bilang bahwa bir bisa membuat orang merasa lebih baik. Salah satu dalam jurnal Nature yang ditulis pada tahun 2013. Peneliti Monika dan kawan-kawan sebotolnya menyimpulkan zat dan senyawa bir bisa menimbulkan efek positif yang signifikan pada bagian otak.

Ah tapi ini jangan dibuat patokan. Karena banyak juga manusia-manusia yang menjahui trend ini. Tidak selamanya pula setiap masalah atau perayaan selalu diakhiri dengan alkohol.

Sering saya menjumpai beberapa orang di bar tidak melulu selalu ingin mabuk. Mereka hanya datang karena ingin menikmati suasana bersama kawan-kawanya. Biasanya bagi orang-orang tak ingin mabuk agar bisa tetap asyik nikmati suasana, mereka memesan beer beralkohol rendah (light beer) atau beer yang tak memiliki kadar alkohol (non-alcohol).

Tanpa bermaksud menggurui, jika tulisan ini mewakili kebiasaanmu, saya hanya berpesan jadilah peminum yang bertanggung jawab.

Jangan sungkan bilang cukup kepada kawan, saat tubuhmu merasa kewalahan menerima kadar alkohol yang melebihi batas toleransi. Karena sangat memalukan jika kamu harus muntah di kloset atau meja barmu. Jika pun tak kuat menahan, lebih enak dipandang tidur di parkiran ketimbang buat keributan.

Salam.
Sebarkan di Social Media

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *